Trip ke Semeru : Dari Semarang ke Malang (Part II)

 Gambar

 

Tasnya ada 12 padahal orangnya cuma 11

 

Dengan waktu 15 menit dan tidak ada kendaraan roda 4 solusi yang kami punya adalah mencari angkot untuk disewa dan itu jelas memakan waktu yang saat itu kami tak punya atau mengangkut bolak-balik penumpang memakai sepeda motor.

Kami pilih solusi yang kedua.

Meski ini juga bukan pekerjaan yang ringan. Ingat kami menggendong tas-tas sebesar kulkas di punggung kami.

Saya sendiri sempat kebagian mengangkut tas “kulkas” ini dua sekaligus memakai motor. Bisa dibayangkan sendiri rasanya.

Singkat cerita meski dengan susah payah dan dengan perasaan seperti maling diburu massa yang mengamuk semuanya berhasil terangkut tepat waktu.

Yang agak membuat dongkol adalah ternyata keretanya datang terlambat.

Di jadwal seharusnya jam 21.32 kereta berangkat, tapi ternyata kereta baru datang jam 22.08. Tapi mungkin kalau kereta berangkat tepat waktu malah kami yang tertinggal.

So, blessing in disguise? Bisa jadi.

Dan akhirnya kami bergerak juga menuju Malang.

Perjalanan cukup melelahkan selama kurang lebih 10 jam ini lebih banyak diwarnai hilir mudik pedagang asongan yang tak kenal lelah menolong yang lemah…erm, maksudnya tak kenal lelah berjualan.

Dan mungkin di  tangan seorang Disc Jockey alias DJ atau mungkin seorang komposer musik kombinasi suara mereka bila digabungkan bisa jadi suatu musik yang menarik.

Mulai dari kotak….kotak….kotak…kotak…. (dilafalkan dengan cepat, ini maksudnya jualan teh yang di kotak itu tuh), kopi…kopi…pop mi…pop mi… , nasi….nasi…makan…makan…(kebanyakan diucapkan dengan logat Jawa yang kental, dan ini yang paling membekas di ingatan saya) sampai tentu saja sang legenda : aqua…aqua…mijo…mijon….

Sekitar jam 6 pagi, menjelang sampai di Malang sempat ngobrol-ngobrol dengan mas-mas yang katanya naik dari Banten. 

Dia bilang dia naik dari Banten jam 10 pagi hari sebelumnya yang artinya kalau sampai di Malang jam 8 pagi dia sudah berada di kereta ini selama 22 jam!

Hampir satu hari penuh!

Jadi jelas 10 jam kami di kereta tidak ada apa-apanya.

Walaupun saya agak meragukan ucapan mas-mas ini karena pas dia nyuruh kami buat sekalian jalan-jalan menjelajahi Malang dia menyebut nama Kawah Ijen.

Entah mas-mas ini tipe orang sok tahu yang asal njepat atau dia memang bener-bener polos tidak tahu.

Kita tentu sama-sama sudah tahu Kawah Ijen ada di mana. Yang jelas tidak berada di Malang.

Dari percakapan kami selama beberapa menit saya bisa bilang dia tipe yang pertama.

Ok. Yang penting kami sudah sampai di Stasiun Malang Kota Baru. Setelah foto-foto narsis sedikit dengan latarbelakang kereta, kami langsung berjalan ke luar stasiun untuk mencari sarana trasnportasi yang akan kebagian mengangkut kami menuju destinasi selanjutnya.

 

Gambar 

Tiba di Stasiun Kota Baru Malang

 

Sebenarnya, tujuan kami adalah menuju rumah Pak Arsi, kenalan dari temannya Exsan, sang kepala suku kami.

Tapi ternyata angkot yang mengangkut kami malah langsung mengarahkan kami menuju Puskesmas yang biasa dipakai para pendaki Semeru untuk tes kesehatan.

Dan ternyata ini juga merupakan salah satu blessing in disguise. Kita akan segera tahu nanti.

Ketika sedang tanya sana-sini tentang prosedur apa yang harus dilakukan untuk tes kesehatan, ternyata Pak Arsi ikut datang ke Puskesmas.

Menanyakan mengapa kami tidak ke rumahnya, sebagaimana kesepakatan awal, padahal di rumahnya, katanya, sudah disiapkan hidangan untuk kami.

Sampai detik itu saya masih percaya apa yang dia katakan.

Sambil mengantri giliran untuk tes kesehatan, Exsan sang kepala suku masih merundingkan perihal alat transportasi yang akan kami pakai untuk menuju Ranu Pani.

Selesai tes kesehatan kami langsung makan siang karena kami baru ingat kami sudah melewatkan makan pagi.

Selesai makan siang yang masakan yang nikmat itu perut kami malah jadi sedikit mual.

Bukan karena makanannya tapi karena jeep yang akan kami pakai menuju Ranu Kumbolo harga sewanya naik dua kali lipat dari yang kami anggarkan.

Perut semakin tidak karuan ketika ternyata sang jeep pun tidak bisa sampai Ranu Pani karena sedang ada perbaikan jalan sehingga kami harus menambah dengan naik ojek.

 

(bersambung)

Iklan

Non Mollare Mai

A ROMA LA LAZIO, C’E’ SOLO LA LAZIO

FORZA LAZIO ALE’, FORZA LAZIO
FORZA LAZIO E

NON MOLLARE MAI
NON MOLLARE MAI, NON MOLLARE MAI
NON MOLLARE MAI…

FORZA LAZIO ALE’, FORZA LAZIO ALE’
FORZA LAZIO ALE’, FORZA LAZIO ALEEEEE’

 

Kelima prajurit itu  berjuang tanpa mengenal lelah menghadapi serangan lawan yang bertubi-tubi seolah tak ada habisnya.

Memang betul peribahasa yang mengatakan mempertahankan lebih sulit daripada meraih.

Kali itu kami mempertahankan keunggulan satu gol yang terus terang kami dapatkan dengan cukup susah payah.

Kelima orang ini berjibaku jatuh bangun mempertahankan keunggulan demi 3 poin pertama dalam turnamen setelah dua hasil minor di dua laga awal.

Sekali kalah (dengan cukup telak, 1-4) dan sekali imbang 2-2 (sempat unggul 2-1 kemudian kebobolan di saat terakhir) jelas tidak cukup untuk lolos dari fase grup yang hanya mengambil dua tim terbaik dari empat kontestan.

Sempat tertekan dan juga sempat menekan, gol yang sangat diharapkan itu akhirnya datang juga.

Dengan skema yang tidak disengaja sebenarnya.

Sebuah bola jauh tepat jatuh di kaki sang striker di depan gawang yang tanpa ampun mencocornya masuk dengan cukup mudah.

Belajar dari dua pertandingan sebelumnya yang dengan jelas menunjukkan rapuhnya pertahanan kami, kami memilih untuk bermain sepakbola negatif setelah gol itu.

Imbasnya tentu saja, serangan dari lawan semakin bergelombang bertubi-tubi menghantam pertahanan ultra defensif yang kami peragakan.

Beberapa pemain bertipe “pekerja keras” pun dimasukkan menggantikan pemain bertipe “stylish”.

Empat pemain, termasuk kiper, berada di area pertahanan sendiri, meninggalkan seorang saja penyerang untuk strategi serangan balik.

Beberapa peluang yang sangat nyaris pun dimiliki kubu lawan, termasuk sebuah peluang one on one dengan kiper kami.

Sangat nyaris, beruntung bola hanya mengenai wajah sang kiper.

Sementara chant berjudul Non Mollare Mai  yang  dikumandangkan anggota tim yang tidak bermain terus bergema di lapangan futsal  yang terletak di pinggiran Kabupaten Ungaran.

Kalimat yang berarti “Never Give Up” atau kira-kira berarti pantang menyerah dalam Bahasa Indonesia ini membuat semangat kami semakin terbakar untuk terus berupaya mempertahankan keunggulan tipis ini di sisa waktu yang ada.

Tidak banyak sebenarnya waktu yang tersisa, tapi tentu cukup untuk membuat tim yang bertahan total seperti kami menderita.

Sampai akhirnya peluit panjang tanda berakhirnya permainan pun tiba.

Hasil yang kami rayakan dengan suka cita, karena kami berharap hasil ini cukup untuk membuat kami lolos ke fase berikutnya.

Yang kami harapkan tidak terjadi.

Tim kami mempunyai nilai yang sama dengan peringkat kedua grup, tapi kalah baik dalam selisih gol maupun head to head.

Apapun, kami tersingkir dengan kepala tegak, karena kami telah melaksanakan semangat dari chant di atas.

Semangat  yang menginspirasi kami untuk terus berjuang sampai detik terakhir.

Semangat untuk tidak menyerah. Semangat untuk NON MOLLARE MAI !

 

Gambar

 

(Tulisan ini saya persembahkan untuk teman-teman Laziale Semarang yang akan berlaga di Trofeo Lazio Indonesia 2013 yang diselenggarakan di Yogyakarta, 2-3 November 2013)

Catatan Perjalanan Menuju Gunung Semeru : Dari Semarang ke Malang

Gambar

Beberapa hari yang lalu saya baru  saja melakukan perjalanan ke Gunung Semeru dari Kota Semarang, Jawa Tengah. Gunung Semeru sendiri berada di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Untuk menuju Malang saya memilih menggunakan Kereta Matarmaja dari Stasiun Poncol. 

Harga tiket 65 ribu  dan sebaiknya pesan dari jauh-jauh hari. Saya kemarin pesan dari 2 minggu sebelumnya sekaligus dengan tiket pulang ke Semarang.

Sebenarnya untuk pulangnya ada teman yang menyarankan untuk naik bus saja, katanya bus jurusan Semarang dari Malang cukup mudah dicari.

Cara ini bisa dicoba untuk mengakali bila kita khawatir akan telat turun dari Semeru.

Sebelum berangkat sebaiknya siapkan surat pernyataan sehat dari dokter dari kota asal. Serta pastikan membawa KTP beserta copy-an nya dan selembar meterai untuk pendaftaran masuk Pos Pendakian Semeru.

Sebelum saya bicara lebih jauh, untuk mendaki Semeru sebaiknya siapkan waktu setidaknya 4-5 hari, terutama jika ingin sampai ke Mahameru, puncak Gunung Semeru.

Waktu 4-5 hari sudah termasuk di perjalanan dari Semarang yang bila naik kereta ekonomi ini butuh waktu sekitar 10 jam. Artinya pulang pergi kita butuh waktu 20 jam di perjalanan.

Berangkat dari Stasiun Poncol Semarang sekitar jam 22.08, sampai di Stasiun Malang Kota Baru sekitar jam 08.15 pagi.

Sampai di Malang sebaiknya dan sangat dianjurkan untuk mampir dulu di basecamp Pak Rusdi. Dari basecamp ini kita bisa sekalian dicarikan transportasi menuju Ranu Pani.

Basecamp Pak Rusdi ini ada di daerah Pasar Tumpang, ke sananya kita bisa sewa angkot dengan kisaran harga 120 – 140 ribu.

Nah,  dari basecamp ini kita bisa minta dicarikan truk atau jeep buat ke Ranu Pani. Kisaran harga sewanya tidak lebih dari 400 ribu per kendaraan atau 25-35 ribu per orang.

Sekali lagi saya anjurkan untuk mampir di basecamp Pak Rusdi ini. Karena banyak oknum-oknum makelar jeep/truk  tak bertanggung jawab yang menetapkan tarif seenak jidat.

Setiap sopir angkot di Stasiun Malang pasti tahu basecamp ini. Jaraknya hanya sekitar 45 menit dari stasiun.

Jarak perjalanan dari Basecamp Pak Rusdi di Pasar Tumpang menuju Ranupani sekitar 1,5 jam. Bila berombongan lebih dari 4 orang saya anjurkan untuk sewa truk saja.

Dengan harga sewa sama kita dapat kendaraan yang lebih nyaman dan lebih luas sekaligus bisa tidur di dalamnya.

Plus, bila jumlah rombongan kita sedikit kita bisa mengajak rombongan lain untuk join kendaraan.

Jadi patungan untuk sewa truk jadi lebih murah.

Kalau tidak salah sebenarnya baik truk/jeep bisa sampai Ranu Pani.

 Tapi karena sedang ada perbaikan jalan yang sekali lagi kalau tidak salah sampai awal Desember nanti jeep/truk harus berhenti lumayan jauh dari Ranu Pani.

Sebagai gantinya kita bisa berjalan kaki saja sampai ke Ranu Pani yang membutuhkan waktu 1 – 1,5 jam.

Atau kita bisa memilih  menaiki ojek yang terdiri dari dua fase.

Fase pertama dari pemberhentian truk/jeep atau portal pertama sampai ke batas areal jalan yang sedang diperbaiki.

Untuk fase ini kita dikenakan biaya 10 ribu.

Sedangkan fase kedua dari portal kedua sampai ke Ranu Pani dikenakan biaya 15 ribu.

Harga-harga ini cenderung tidak bisa ditawar karena sudah merupakan kesepakatan dari paguyuban yang menaungi mereka yang harus mereka sepakati bila mereka masih mau mencari penghasilan di sana.

Kita bisa memilih menaiki ojek untuk kedua fase ini atau salah satu saja.

Saya cenderung menyarankan untuk berjalan kaki saja di fase pertama baru kemudian naik ojek di fase kedua.

Terutama bila mendaki di siang hari karena pemandangan di sepanjang fase pertama ini sangat menarik untuk dinikmati sambil berjalan kaki.

Jaraknya pun tidak terlalu jauh. Kira-kira tidak sampai setengah jam jalan kaki.

Sampai di Pos Pendakian, kita harus mengurus tetek bengek mulai dari mengisi formulir berisi identitas diri, no telepon yang bisa dihubungi sampai daftar barang bawaan.

Siapkan fotocopy KTP, surat kesehatan, uang pendaftaran 10 ribu per orang, biaya kemah 40 ribu per rombongan, serta 1 lembar meterai 6000.

Meterai cukup hanya 1 lembar per rombongan.

Setelah semua urusan administrasi pendakian beres sebaiknya cek terakhir semua perlengkapan pendakian.

Tracking dari Ranu Pani menuju Ranu Kumbolo rata-rata membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam perjalanan.

Medan yang ditempuh bertipe panjang dan memutar, tidak ada track dengan kemiringan tinggi di rute ini.

Tanahnya cenderung berdebu karena sedang musim kemarau dan menurut penduduk setempat sudah berbulan-bulan tidak hujan.

Sebaiknya bawa masker dan kacamata pelindung.

Karena saya kemarin hanya sampai Ranu Kumbolo, tidak banyak yang bisa saya ceritakan sampai Kalimati dan Mahameru.

Saya cuma tahu dari teman-teman yang saya temuidi perjalanan atau di basecamp.

Infonya kurang lebih seperti ini :

Dari Ranu Kumbolo menuju Kalimati mempunyai waktu tempuh sekitar 4 jam.

Untuk Mahameru, pihak pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sudah melarang sampai ke sana.

Mengingat bahaya yang mengintai.

Jadi jika terjadi apa-apa pada diri kita di Mahameru, pihak TNBTS tidak mau bertanggung jawab.

Namun masih banyak juga pendaki yang memilih untuk tetap sampai ke sana.

Intinya “Do with your own risk”.

Kalau mau ke sana silakan tapi tanggung sendiri resikonya.

Dan resiko itu bisa kita minimalisasi dengan salah satunya tidak terlalu lama berada di puncak yang setiap beberapa jam sekali menyemburkan asap tebal yang saya kurang paham asap apa itu.

Saya dengar juga sebaiknya tidak berada di Mahameru setelah jam 9 pagi. Jadi kita harus pintar-pintar dalam meyiasati hal-hal di atas.

Rekap biaya per orang yang diperlukan menuju Gunung Semeru dari Semarang dengan estimasi rombongan terdiri dari 10 orang :

  1. Tiket kereta Matarmaja Jurusan Stasiun Malang Kota Baru (PP) : 65.000 x 2 = Rp 130.000
  2. Sewa angkot dari stasiun Malang PP : 12.000 x 2 = Rp 24.000
  3. Sewa truk/jeep PP : 40.000 x 2 = Rp 80.000
  4. Ojek (hanya fase 2) PP : 15.000 x 2 = Rp 30.000
  5. Biaya masuk : Rp 10.000
  6. Biaya kemah  : Rp 4.000
  7. Meterai 6000 (1 per rombongan) : Rp 7.000
  8. Makan di luar masa pendakian : Rp 15.000 x 2 = Rp 30.000

Total biaya  :  Rp 315.000

Biaya ini DI LUAR  biaya perbekalan yang kita bawa selama masa pendakian yang itu tentu tergantung selera dan kebutuhan masing-masing orang, seperti pemilihan perbekalan makanan dan mungkin obat-obatan pribadi serta perlengkapan pendakian lainnya.

Selamat mendaki Semeru!

Gambar

Trip ke Semeru : Dari Semarang ke Malang (Part I)

Oke langsung saja. Saya kemarin baru saja mendaki Gunung Semeru.

Saya jelaskan kenapa dalam judul tulisan ini ada bagian : “Dari Semarang ke Malang.

Karena sewaktu akan berangkat ke Semeru kemarin, saya mencari tulisan tentang perjalanan menuju Semeru dari Kota Semarang, sebagai bahan referensi perjalanan saya.

Dan ternyata tidak saya temukan.

Mungkin sebenernya ada dan saya saja yang tidak menemukannya, tapi yang jelas tulisan itu tidak ada di 10 daftar teratas pencarian Google.

Saya tahu tulisan saya tidak berarti banyak, tapi setidaknya sedikit membantu bagi yang ingin melakukan perjalanan ke Semeru dari Semarang.

Cerita saya dan 11 orang kawan seperjalanan saya dimulai dengan waktu packing yang mepet.

Sesuai rencana kami akan berkumpul di rumah seorang kawan yang kebetulan rumahnya dekat dengan Stasiun Poncol Semarang habis Isya’, ini kebiasaan buruk dalam menetapkan waktu, harusnya sih disebut jamnya saja.

Dan ternyata memang demikian.

Saya datang sekitar jam  07.30, dan baru satu orang yang datang selain tuan rumah, padahal waktu Isya’ di Semarang sekitar jam 18.45. Dan satu orang yang sudah datang itupun adalah pacar si tuan rumah :hammer: .

Baru beberapa saat kemudian satu orang lagi datang.

Karena kelamaan menunggu dan kami belum makan malam akhirnya saya dan satu teman yang baru datang tadi memutuskan cari makan dulu.

Balik dari cari makan sekitar jam 20.20  ternyata semua sudah datang.

Barulah kami bisa mulai packing ulang, karena ada teman yang dari luar kota dan barang-barangnya belum dijadikan satu.

 Sebagai informasi jadwal berangkat kereta yang akan kami tumpangi (yang tertera di tiket) adalah jam 21.32. Artinya….. .

Oke, artinya tinggal tidak lebih dari satu jam lagi kereta berangkat dan packing kami bahkan belum beres. Silakan dibayangkan sendiri. *membayangkan*

Ngebut packing bla…bla…bla…. sambil mencoba mengabaikan fakta bahwa barang bawaan yang mereka bawa terlalu banyak untuk ukuran naik gunung(misteri barang apa saja yang mereka bawa sehingga bisa jadi sebanyak itu akan terungkap di akhir cerita)  packing terus dilanjutkan.

Dan saat semua proses packing selesai itulah tiba-tiba ditemukan kejadian gaib, mistik, supernatural dan metafisika *abaikan*.

Ternyata tas yang kami packing termasuk daypack berjumlah 12 buah.

Padahal yang berangkat dari Semarang hanya 11 orang.

Satu orang teman berangkat dari Surabaya tapi dia membawa sendiri tasnya.

Jawabannya : karena ada satu orang yang membawa dua tas, 1carrier dan 1 daypack.

Bukan salah yang bawa tas dua, tapi kenapa bisa barang bawaan 11 orang harus termuat dalam 12 tas?

Awalnya kami pikir karena kami membawa makanan terlalu banyak, dalam perjalanan nanti kami baru tahu kalau ternyata itu tidak benar.

Semua barang sudah masuk dan terpaksa ada 1 orang yang membawa 2 tas, 1 carrier dan 1 daypack, kami langsung buru-buru ke stasiun.

Meski rumah teman kami itu cukup dekat dengan stasiun, tidak lebih 1 Km dari stasiun, memindahkan 11 orang dengan 12 tas besar-besar jelas bukan pekerjaan ringan.

Apalagi waktu sudah menunjukkan jam 21.15. Waktu kami tinggal 15 menit.

(bersambung)

Naik Gunung

Ada yang unik saat saya mendaki Ungaran beberapa minggu lalu. Serombongan siswa dari sebuah SMA di Demak memenuhi puncak Ungaran. Saat saya tanya berapa jumlah rombongan mereka, mereka jawab 50 orang! Wow! Ini pertama kalinya saya menjumpai suatu kelompok terutama pelajar sekolah menengah dalam jumlah sebanyak itu. Perlu diingat itu bukan kegiatan pendakian massal. Pendakian massal pun saya kira tidak pernah melibatkan peserta yang mengikutkan peserta sebanyak itu hanya dari satu kelompok! Jumlah pelajar sebanyak itu dalam satu kegiatan biasanya hanya karyawisata atau mungkin kemah Pramuka. Nampaknya naik gunung telah bergeser menjadi sebuah hobi yg umum(?) Karena selain rombongan siswa SMA dari Demak itu masih ada banyak rombongan yang lain. Yang dari pengamatan saya terdiri dari maba-maba alias mahasiswa-mahasiswa baru yang nampaknya dari luar kota dan kuliah di Semarang, serta beberapa pemuda kampung yang berasal dari sekitar Ungaran. Semoga itu sesuatu yang positif.

Selain fenoma di atas ada tren menarik lain yang saya temui dalam pendakian itu. Yaitu tren untuk membawa secarik kertas yang kemudian mereka berfoto dengan kertas itu di puncak gunung. Tebak apa tulisan di kertas itu? Kebanyakan berisi pesan kepada orang yg mereka taksir/suka bahwa mereka bersusah payah sampai ke puncak gunung untuk orang-orang itu. WHAT THE FUCK!?? Tren macam apa ini?! *elus dada* *dadanya siapa?!* Ada juga sih yang bawa tulisannya bahwa mereka sudah sampai di puncak Ungaran. Tapi kebanyakan ya kayak yang pertama tadi. Hadeuuhhh…. Entah dari film/sinetron/drama korea mana mereka terinspirasi. Yah, tapi setidaknya dari pengamatan saya mereka nggak buang sampah sembarangan. Mereka sadar buat bawa pulang sampah mereka.

Gunung Ungaran

Terhitung setidaknya sudah 10 kali saya mendaki Gunung Ungaran. Gunung dengan ketinggian 2050 mdpl (meter di atas permukaan laut) ini terletak di Kabupaten yang bernama sama, Ungaran. Entah mana yang dinamai terlebih dahulu. Kabupaten Ungaran sendiri boleh dibilang semacam kota satelit dari Kota Semarang, ibukota Propinsi Jawa Tengah.

Dari 10 kali pendakian saya itu, sekitar 5 di antaranya saya mendaki sampai puncak, sedangkan sisanya hanya sampai Promasan. Promasan merupakan desa terakhir sebelum kita mencapai Puncak Ungaran. Karena saya sudah beberapa kali singgah di desa ini dalam kurun 7 taun terakhir, sedikit banyak saya juga mengikuti perkembangannya. Seingat saya pertama kali saya menginjakkan kaki di desa ini aliran air belum sampai ke rumah-rumah penduduk. Hanya ada sumber mata air yang memang cukup berlimpah di bagian bawah desa kecil ini. Ungaran memang seperti tidak pernah kekurangan air. Saat kemarau pun air masih tersedia secara melimpah di sini. Kualitasnya pun cukup baik. Tak salah beberapa perusahaan penyedia air mengambil air dari sini. Kembali tentang Desa Promasan, kini beberapa saluran pipa-pipa telah tersambung dari sumber mata air menuju depan rumah penduduk maupun keran-keran di masjid. Meski di kunjungan terakhir saya kemarin keran-keran ini tampak tidak berfungsi. Mungkin karena tandon airnya habis atau apa, entahlah.

Pipanisasi ini juga tampak di jalur-jalur pendakian terutama jalur pendakian Jimbaran. Sebagai informasi Gunung Ungaran mempunyai beberapa jalur pendakian, di antaranya Jalur Pendakian Jimbaran, Gedong Songo, dan Gonoharjo. Sebenernya setidaknya masih ada 2 jalur pendakian lain tapi saya lupa namanya. Dulu, jika mendaki lewat Jimbaran kita akan menjumpai air yang mengalir melalui parit-parit serta beberapa curug (air terjun kecil) di sepanjang perjalanan. Kini yang tampak hanya beberapa pipa-pipa yang mengalirkan air tersebut. Tidak masalah selama itu untuk kebaikan penduduk sekitar. Ngomong-ngomong soal penduduk, yang menarik adalah orang-orang yang tinggal di Desa Promasan ternyata bukan penduduk asli daerah itu. Mereka kebanyakan berasal dari Temanggung, Wonosobo dan sekitarnya, setidaknya itu informasi yang saya dapatkan sewaktu saya sedikit berbincang-bincang dengan mereka. Mereka tinggal di sana karena dipekerjakan oleh si pemilik kebun teh. Rumah-rumah yang mereka tempati juga adalah milik si pemilik kebun teh alias PTPN (PT Perkebunan Nusantara). Yup, areal Desa Promasan adalah lahan kebun teh. Setiap pagi saat musim panen (?) juga serombongan ibu-ibu paruh baya juga datang dengan menggunakan truk. Mungkin mereka juga berasal dari daerah yang sama dengan orang-orang yang menetap di Promasan? Barangkali.

Yah, yang jelas Ungaran-Promasan tak akan pernah saya lupakan. Tempat inilah saya pertama kalinya naik gunung. pertama kali pula merasakan dinginnya hawa gunung. Tahun lalu ketika saya mendaki Ungaran saya bilang kepada teman-teman saya bahwa itu adalah pendakian Ungaran terakhir saya. Tapi ternyata saya keliru. 3 hari yang lalu saya baru kembali dari Ungaran. Jadi entah berapa kali lagi saya akan mendaki Ungaran. Hanya Tuhan yang tahu.

Ke samping

Gambar

Wajah Tidur

 

Di tengah kebohongan dan  kepura-puraan yang menguasai dunia.

Di saat kemunafikan dan kepalsuan merajarela.

Di kala KEJUJURAN adalah oase di padang tandus.

KEJUJURAN-lah yang diidamkan begitu banyak manusia, tapi begitu sulit didapatkan.

KEJUJURAN ini tampil dengan begitu mudahnya, dengan sederhana.

KEJUJURAN berbentuk wajah tidur.

Wajah ini adalah wajah paling jujur di dunia.

Tak ada kebohongan sedikit pun padanya.

Kepura-puraan, kepalsuan , pun tak ada.

Yang ada hanyalah kepasrahan sang wajah pada kondisi tuannya.

Ketika sang tuan tengah kehabisan tenaga setelah seharian menjalani hari, ia pun tak kuasa melawan.

Tak juga menolak.

Melainkan hanya mampu menampilkan kondisi sang tuan seutuhnya.

Apa adanya.

Tak kurang.

Tak juga lebih.